Ketika Guru Memilih Diam
Oleh : Winda Manhartika
Catatan dari Pelatihan Pendidikan Demokrasi
Ketika pertama kali menerima surat tugas untuk mengikuti Pelatihan Guru untuk Pendidikan Demokrasi selama tiga hari, dari tanggal 04-06 Mei 2026 di Hotel Santika Premier Slipi, perasaan saya bercampur aduk. Di satu sisi, saya merasa bersyukur mendapat kesempatan belajar bersama 30 guru SMA Negeri Jakarta terpilih, dari berbagai bidang ilmu Humaniora ; Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, Sosiologi, dan Sejarah. Saya sendiri mewakili SMAN 39 Jakarta. Namun di sisi lain, ada rasa sedih yang sulit dijelaskan karena saya harus meninggalkan dua balita saya di rumah selama tiga hari, begitupun meninggalkan kelas yang saya ajar dari hari Senin-Rabu.
Sebagai seorang ibu sekaligus guru, meninggalkan anak selama beberapa hari bukan perkara sederhana. Ada rasa khawatir, rasa bersalah, dan perasaan tidak tenang yang terus mengikuti perjalanan saya menuju lokasi pelatihan. Bahkan di hari pertama, saya sempat bertanya dalam hati: apakah perjalanan ini benar-benar akan sepadan?
Ternyata, saya pulang dengan jawaban yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Pelatihan yang diselenggarakan oleh Paramadina Institute for Education Reform (PIER) bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) ini bukan sekadar kegiatan formal berisi ceramah panjang dan tumpukan materi. Justru sebaliknya. Jadwalnya memang padat, tetapi sama sekali tidak terasa membosankan karena seluruh proses belajar dirancang secara partisipatif. Kami tidak hanya duduk mendengar, tetapi diajak berdiskusi, merefleksikan pengalaman, bertukar pandangan, bahkan mengkritisi praktik pendidikan yang selama ini berlangsung di sekolah.
Ada sesuatu yang terasa hidup di dalam ruang pelatihan itu.
Empat pemateri yang hadir juga luar biasa dalam mengajak kami berpikir ulang tentang pendidikan. Diantaranya : Djayadi Hanan, Ph.D., Dr. Mohammad Abduhzen, M.Hum., Umar Abdullah, Ph.D., M. Hilal Tri Anwari, Achmad Firas Khudi, SE.,ME.,MA., Danang Binuko, SE,M.AP., Mereka bukan hanya menyampaikan teori, tetapi mendorong kami merekonstruksi cara pandang sebagai pendidik. Saya merasa seperti sedang diajak membongkar ulang banyak keyakinan lama tentang sekolah, guru, murid, bahkan tentang makna belajar itu sendiri.
Di beberapa sesi, kepala saya terasa penuh oleh ilmu dan pemahaman baru. Tetapi yang lebih penting dari itu, hati saya terasa hangat.
Hangat karena saya menyadari bahwa keresahan yang selama ini saya rasakan ternyata bukan keresahan pribadi. Banyak guru di ruangan itu memiliki kegelisahan yang sama: tentang pendidikan yang terlalu administratif, tentang siswa yang kehilangan ruang untuk didengar, tentang sekolah yang terkadang lebih sibuk mengejar angka dibanding membangun manusia.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya merasa tidak sendirian.
Salah satu pembahasan yang paling membekas bagi saya adalah ketika kami mendiskusikan fenomena silent people. Istilah ini menggambarkan orang-orang yang memilih diam, tidak menyampaikan pendapat, enggan bersuara, atau merasa percuma untuk terlibat dalam ruang-ruang diskusi sosial maupun pendidikan.
Yang mengejutkan, banyak peserta menyadari bahwa fenomena ini semakin kuat terjadi di dunia pendidikan Indonesia.
Guru-guru hari ini, tanpa sadar, mulai menjadi silent people. Banyak yang sebenarnya memiliki gagasan, kritik, kreativitas, dan keresahan terhadap sistem pendidikan, tetapi memilih diam. Sebagian lelah dengan birokrasi yang panjang. Sebagian takut dianggap melawan. Sebagian lagi merasa suaranya tidak akan mengubah apa pun.
Akhirnya, banyak guru memilih bertahan dalam sunyi.
Mengerjakan tugas administratif.
Masuk kelas.
Mengajar seperlunya.
Pulang dengan kelelahan yang dipendam sendiri.
Fenomena ini sebenarnya sangat berbahaya bagi pendidikan. Ketika guru kehilangan keberanian untuk berpikir kritis dan menyuarakan gagasannya, sekolah perlahan kehilangan ruh demokratisnya. Pendidikan menjadi ruang yang patuh, tetapi tidak hidup. Tertib, tetapi miskin dialog.
Padahal demokrasi dalam pendidikan tidak selalu berarti perdebatan besar atau kritik keras terhadap sistem. Demokrasi justru dimulai dari keberanian kecil untuk bertanya, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan mendengar orang lain dengan terbuka.
Saya kemudian teringat pada ruang kelas kita hari ini. Bukankah banyak siswa juga sedang tumbuh menjadi silent people?
Mereka takut salah.
Fenomena ini sebenarnya sangat berbahaya bagi pendidikan. Ketika guru kehilangan keberanian untuk berpikir kritis dan menyuarakan gagasannya, sekolah perlahan kehilangan ruh demokratisnya. Pendidikan menjadi ruang yang patuh, tetapi tidak hidup. Tertib, tetapi miskin dialog.
Padahal demokrasi dalam pendidikan tidak selalu berarti perdebatan besar atau kritik keras terhadap sistem. Demokrasi justru dimulai dari keberanian kecil untuk bertanya, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan mendengar orang lain dengan terbuka.
Saya kemudian teringat pada ruang kelas kita hari ini. Bukankah banyak siswa juga sedang tumbuh menjadi silent people?
Mereka takut salah.
Pelatihan ini membuat saya sadar bahwa tugas guru bukan hanya mengajarkan materi, tetapi menciptakan ruang yang aman agar siswa berani bersuara. Sebab demokrasi tidak tumbuh dari hafalan tentang pasal dan sistem pemerintahan. Demokrasi tumbuh ketika manusia merasa pendapatnya dihargai.
Dalam salah satu materi juga dijelaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat persemaian demokrasi dan pusat pembentukan kultur masyarakat sipil. Kalimat itu terus terngiang dalam kepala saya hingga hari ini.
Apakah ruang kelas kita sudah cukup aman untuk perbedaan?
Apakah siswa benar-benar merasa didengar?
Apakah guru sendiri masih memiliki ruang untuk berpikir merdeka?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengikuti saya bahkan setelah pelatihan selesai.
Di penghujung kegiatan, pelatihan ditutup oleh Mohammad Abduhzen dengan sebuah kalimat sederhana, tetapi sangat membekas dalam hati saya:
"Jika ada yang kita semai, maka akan ada yang tumbuh. Jika tidak ada yang kita semai, maka tidak akan ada yang tumbuh."
Kalimat itu terasa seperti penegas dari seluruh perjalanan belajar selama tiga hari tersebut.
Pendidikan memang tidak selalu menunjukkan hasilnya secara instan. Apa yang diajarkan guru hari ini mungkin tidak langsung terlihat besok pagi. Tetapi setiap ruang aman yang kita ciptakan, setiap kesempatan berbicara yang kita berikan kepada siswa, setiap penghargaan terhadap perbedaan, setiap keberanian untuk mendengar---semuanya adalah benih.
Dan barangkali, demokrasi yang sehat juga tumbuh dengan cara seperti itu:
perlahan, diam-diam, tetapi berakar kuat.
Maka sepulang dari pelatihan ini, saya tidak ingin hanya membawa pulang materi dan sertifikat. Saya ingin membawa pulang keberanian untuk mulai menyemai sesuatu di ruang kelas saya sendiri.
Sebab mungkin benar, masa depan demokrasi Indonesia sedang tumbuh dari ruang-ruang kelas kecil tempat guru memilih untuk tidak lagi diam.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Guru Memilih Diam", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/windalauranta/69fda02fc925c44fb9208042/ketika-guru-memilih-diam?page=4&page_images=1
Kreator: Winda Manhartika.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com






